VLOBS.COM – Satelit pertama Project Suncatcher milik Google telah mencapai luar angkasa. Namun, perusahaan itu menilai masih ada sejumlah tantangan sebelum pusat data berbasis satelit dapat beroperasi dalam skala besar.
Proyek ini dirancang untuk menguji apakah tensor processing unit (TPU) Google mampu bertahan saat peluncuran dan menghadapi kondisi keras di luar angkasa. Google juga ingin menguji gagasan bahwa ketersediaan energi surya di sana dapat membuat biaya menempatkan server di orbit masuk akal.
Dalam pengumuman peluncuran, Google merujuk pada riset yang telah ditelaah sejawat mengenai proyek tersebut. Makalah berjudul “Toward a future space-based, highly scalable AI infrastructure system design” memaparkan sejumlah persoalan yang perlu diatasi agar pusat data orbital dapat diwujudkan.
Baca juga: Gubernur California Veto RUU soal Kacamata Perekam Rahasia
Biaya peluncuran dan skala produksi
Menurut makalah itu, SpaceX dan pihak lain mengajukan biaya peluncuran US$200 per kilogram sebagai salah satu patokan agar pusat data orbital menjadi layak. Para peneliti Google mencatat SpaceX telah menurunkan biaya peluncuran per kilogram ke orbit sebesar 20 persen setiap kali total massa yang diluncurkan berlipat ganda.
Google memperkirakan biaya US$200 per kilogram “masuk akal dengan asumsi yang wajar” jika SpaceX dapat mempertahankan tren tersebut. Syarat yang disebut mencakup peluncuran tambahan 370.000 ton massa kumulatif, setara dengan sekitar 1.800 peluncuran sukses roket Starship, serta penggunaan ulang komponen sebanyak 100 kali.
Google belum mengetahui massa satelit pusat data yang kelak digunakan. Makalah tersebut menyebut satelit Starlink generasi kedua berbobot 575 kilogram sebagai pembanding. Menurut kesimpulan riset, jika biaya peluncuran mencapai sekitar US$200 per kilogram, biaya tahunan per unit daya di luar angkasa bisa kurang lebih sebanding dengan pengeluaran di Bumi. Perhitungan biaya masa depan itu menggunakan data dari SpaceX dan operator roket lain.
Baca juga: Sony Hadirkan Teknologi Upscaling AI QSSR untuk PS5 Reguler
Jaringan dan desain satelit masih perlu dikembangkan
Teknologi lain yang diperlukan untuk membangun pusat data di luar angkasa sebagian besar masih bersifat teoritis. Google menilai teknologi jaringan yang ada kemungkinan belum cocok untuk menghubungkan banyak satelit menjadi klaster yang berfungsi.
Kebutuhan komunikasi cepat antarsatelit, menurut makalah itu, akan menuntut rancangan yang jauh lebih besar dan formasi terbang yang lebih rapat dibandingkan konstelasi satelit sebelumnya maupun yang beroperasi saat ini.
Baca juga: Hakim AS Gugurkan Gugatan Antimonopoli Chegg dan PMC atas Google
Google juga memperkirakan desain satelit perlu berkembang. Rancangan yang dibahas sejauh ini menggunakan komponen komputasi, badan satelit, radiator termal, dan panel surya yang terpisah. Makalah itu menyebut produksi berskala besar dapat mendorong desain yang lebih terintegrasi, termasuk penggabungan komputasi, radiator, dan daya dengan arsitektur generasi berikutnya seperti substrat komputasi berbasis neural cellular automata.
Komunikasi optik yang andal antara satelit dan Bumi juga dinilai penting. Google menyebut tantangannya meliputi turbulensi atmosfer, kesalahan akibat gerak relatif berkecepatan tinggi, serta pelacakan berkas yang presisi. Riset tersebut mengutip misi TeraByte Infrared Delivery (TBIRD) NASA, yang telah mendemonstrasikan komunikasi 200 Gbps antara Bumi dan orbit rendah sebagai pendekatan yang menjanjikan.
Para peneliti Google menyimpulkan bahwa rencana pusat data antariksa membutuhkan riset berkelanjutan, penyempurnaan rancangan secara bertahap, dan pencapaian sejumlah tonggak penting pada masa mendatang.















