VLOBS.COM – Cloudflare Data Platform resmi keluar dari tahap beta dan tersedia secara umum dengan nama baru, Basin. Perubahan nama ini juga berlaku untuk tiga produknya: Cloudflare Pipelines menjadi Basin Pipelines, R2 Data Catalog menjadi Basin Catalog, dan R2 SQL menjadi Basin SQL.
CTO Cloudflare Dane Knecht menyebut Basin membawa model serverless perusahaan ke analitik, tanpa klaster yang perlu dikelola dan tanpa perpindahan data yang tidak diperlukan. Ia juga menyoroti penggunaan standar terbuka agar pelanggan tetap memegang kendali atas data mereka.
Baca juga: INTERPOL: AI Mempercepat Ancaman Siber dan Perluas Skalanya
Cloudflare mengandalkan Apache Iceberg dan menyatakan data dapat berpindah antarkawasan cloud tanpa biaya egress. Perusahaan membandingkan hal itu dengan layanan Amazon S3, Google Cloud Storage, dan Azure Blob Storage yang mengenakan biaya egress.
Baca juga: Samsung Naikkan Harga Galaxy S26 hingga 200 Dolar di AS
Biaya berlaku pada penggunaan tertentu
Klaim tanpa biaya transfer memiliki batasan. Cloudflare menyatakan pengambilan data langsung dari R2 melalui Workers API, S3 API, dan domain r2.dev tidak dikenai biaya egress. Namun, layanan terukur lain yang terhubung ke bucket R2 dapat menimbulkan biaya.
Jika Basin Pipelines digunakan untuk memuat data streaming ke Apache Iceberg atau Parquet di R2, Cloudflare mengenakan biaya setelah batas kuota yang disertakan terlampaui. Perusahaan menamai komponen harga tersebut “Sinks (egress)”.
Baca juga: Cramer Sebut Akamai Saham Infrastruktur Internet yang Layak Dibeli
Data yang disimpan di R2 Data Catalog dapat diproses dengan Basin SQL atau mesin kueri eksternal, termasuk DuckDB, PyIceberg, Snowflake, Spark, StarRocks, dan Trino.















