VLOBS.COM – Lyft akan membayar US$272,5 juta untuk menyelesaikan gugatan yang diajukan California pada Mei 2020. Gugatan itu menuduh Lyft dan Uber salah mengklasifikasikan pekerja sebagai kontraktor. Jaksa Agung California Rob Bonta mengumumkan kesepakatan tersebut dalam sebuah pernyataan pada Kamis.
Pembayaran itu masih menunggu persetujuan pengadilan. Jika disetujui, sedikitnya US$237.075.000 dari total tersebut akan digunakan untuk membayar upah minimum dan tunjangan yang menjadi hak pekerja.
Baca juga: Anthropic Investasikan US$100 Juta untuk Melatih 10.000 Insinyur AI
Pernyataan itu menyebut kelayakan dan kompensasi pengemudi akan didasarkan pada jumlah jam kerja serta jarak yang ditempuh dari 5 April 2016 hingga 15 Desember 2020.
Baca juga: Apple Batasi Akses Disk Penuh di Mac karena Risiko Agen AI
Gugatan berawal dari aturan klasifikasi pekerja
Gugatan tersebut diajukan setelah California mengesahkan Assembly Bill 5 pada 2019. Undang-undang itu memasukkan “ABC test”, kriteria yang harus digunakan perusahaan untuk membuktikan pekerjanya merupakan kontraktor independen, bukan karyawan. Ketentuan awalnya memungkinkan pengemudi Lyft dan Uber dikategorikan sebagai karyawan yang berhak atas upah minimum dan perlindungan lain.
Lyft dan Uber mendukung Prop 22 pada November 2020 karena klasifikasi sebagai karyawan dinilai mengancam model bisnis platform kerja gig. Prop 22 menetapkan pengecualian dari ABC test yang mengklasifikasikan kembali pekerja gig sebagai kontraktor, dengan jaminan manfaat tertentu seperti subsidi layanan kesehatan.
Baca juga: Saham Cerebras Turun 20% Sepekan akibat Nvidia dan Lockup
Pekerja telah menggugat legalitas Prop 22, tetapi Mahkamah Agung California mempertahankan undang-undang tersebut, termasuk pada 2024. Kesepakatan ini menyelesaikan klaim negara bagian terhadap Lyft, sementara gugatan terhadap Uber masih belum tuntas.














