VLOBS.COM – Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menangguhkan Microsoft dan Adobe dari program Permanent Labor Certification. Menteri Tenaga Kerja Keith Sonderling mengatakan keputusan itu diambil karena terdapat beberapa penyelidikan federal aktif terkait keterlibatan kedua perusahaan dalam program tersebut.
CNBC melaporkan, pengumuman itu disampaikan pada Kamis ketika pemerintahan Donald Trump memperketat kebijakan terkait imigrasi dan perekrutan pekerja asing menjelang pemilihan paruh waktu November.
Baca juga: Asos Konfirmasi Kebocoran Data Pelanggan Usai Notifikasi Peretas
Sonderling juga mengatakan departemennya tidak akan menerima atau memproses aplikasi baru dalam program tersebut dari sejumlah perusahaan. Daftar yang disebutnya mencakup Cognizant, Infosys, Capgemini, Tata, Wipro, dan HCL.
Menurut Sonderling, sejak 2009 perusahaan-perusahaan yang disebutnya telah mengajukan permintaan untuk hampir 3 juta pekerja asing. Ia juga menyebut perusahaan-perusahaan itu menerima lebih dari 230.000 persetujuan visa H-1B dan lebih dari 100.000 sertifikasi kerja permanen. Sonderling mengklaim jumlah tersebut berarti ratusan ribu pekerjaan diambil dari pekerja Amerika.
Baca juga: Trump Ungkap Pembelian Saham Meta hingga US$25 Juta dan Utang SpaceX
Wakil Presiden JD Vance secara khusus mengkritik Microsoft, dengan menyinggung 6.000 pemutusan hubungan kerja di perusahaan itu pada 2025. Vance mengklaim pekerja tersebut digantikan oleh pemegang visa H-1B. Ia mengatakan pemerintah akan tetap mendukung Microsoft, tetapi tidak akan mengizinkan perusahaan itu mengajukan izin tinggal permanen sampai menunjukkan keseriusan dalam mengutamakan pekerja Amerika.
Baca juga: Amazon Ganti Lini Fire dengan Tablet Alexa, Harga Mulai $230
Presiden Donald Trump dijadwalkan menganugerahkan National Medal of Science kepada CEO Microsoft Satya Nadella dan sejumlah CEO teknologi lain pada Kamis, di pertemuan yang sama dengan pengumuman penangguhan tersebut. Nadella berasal dari India, pindah ke AS pada 1988, dan bergabung dengan Microsoft pada 1992.
CNBC menyatakan telah meminta komentar dari Microsoft dan Adobe.
















