VLOBS.COM – Kecerdasan buatan mempercepat dan memperluas taktik kejahatan siber yang sudah ada, seperti penipuan dan fraud. Bjorn R. Watne, global chief information security officer di INTERPOL, menyampaikan hal itu kepada CNBC di sela-sela Tech Week Singapore, Kamis.
Menurut Watne, AI belum merevolusi teknik kejahatan, tetapi meningkatkan kecepatan dan skalanya. Pelaku penipuan dapat memakai AI untuk menyasar banyak korban sekaligus. Kemajuan penerjemahan dan identitas digital juga membuat interaksi palsu semakin sulit dibedakan dari interaksi asli.
Baca juga: Samsung Naikkan Harga Galaxy S26 hingga 200 Dolar di AS
Watne menyarankan perusahaan terlebih dahulu mengenali aset paling penting bagi kelangsungan operasional mereka, atau yang ia sebut sebagai “crown jewels”. Perusahaan juga perlu mengidentifikasi pihak yang mungkin ingin mencuri atau mengganggu aset tersebut.
Setelah itu, perusahaan dapat memanfaatkan threat intelligence untuk memahami taktik dan teknologi yang digunakan pihak lawan, lalu menyesuaikan pertahanannya. Watne mengatakan perusahaan tidak perlu melindungi diri dari semua ancaman sekaligus jika tidak menjadi sasaran ancaman tersebut. Kebutuhan pertahanan dapat berbeda, bergantung pada apakah perusahaan menghadapi pelaku kejahatan oportunistis atau advanced persistent threat.
Watne juga menyoroti jarak antara manajemen senior dan strategi keamanan siber di sejumlah perusahaan. Menurutnya, banyak industri belum menyadari bahwa setiap perusahaan saat ini merupakan perusahaan IT. Meski risiko siber semakin diperhitungkan dalam daftar risiko korporasi, keamanan siber belum sepenuhnya masuk ke ruang rapat banyak perusahaan.
Baca juga: Cramer Sebut Akamai Saham Infrastruktur Internet yang Layak Dibeli
Risiko AI yang dapat bertindak
Watne mengaku waspada terhadap AI agentik yang semakin mampu melakukan tindakan atas nama pengguna. Ia memperingatkan bahwa kesalahan sistem semacam itu dapat menimbulkan dampak nyata, tidak hanya memberikan informasi yang keliru, tetapi juga melakukan tindakan yang salah.
Penerapan AI pada perangkat seperti mobil dan kendaraan swakemudi menjadi salah satu bidang yang ia soroti. Watne menambahkan, risiko tersebut diperbesar oleh tingginya kepercayaan masyarakat terhadap teknologi.
Baca juga: OpenAI Pecat Tiga Pegawai Tim Keamanan soal Informasi Sensitif
Ia membandingkan sikap itu dengan penggunaan layanan keuangan, ketika orang cenderung lebih mengutamakan kendali dan perlindungan, seperti penggunaan PIN serta kewaspadaan terhadap pencurian data kartu. Sebaliknya, saat menggunakan teknologi, orang kerap lebih cepat mengadopsi perangkat dan aplikasi baru tanpa tingkat kehati-hatian yang sama.
Watne menilai kepercayaan terhadap teknologi perlu dicermati lebih serius seiring meningkatnya kemampuan sistem AI untuk bertindak atas nama pengguna.
















