VLOBS.COM – Kesepakatan baru yang ditandatangani para pemimpin perusahaan teknologi di Gedung Putih tetap menempatkan pengawasan keamanan kecerdasan buatan (AI) di tangan masing-masing perusahaan. Hal itu terjadi di tengah meningkatnya desakan agar pemerintah mengatur pengembangan teknologi AI.
Presiden Donald Trump mengundang para eksekutif dari Alphabet, Meta, SpaceX, Nvidia, Palantir, Anthropic, OpenAI, dan perusahaan lain untuk makan siang pada Selasa. Pertemuan itu berlangsung setelah perdebatan nasional selama tiga pekan mengenai keselamatan AI, dipicu peringatan peneliti dan eksekutif industri tentang risiko model yang semakin canggih.
Baca juga: Pasokan Chip dan Packaging Batasi Ekspansi Data Center AI AS
Trump menentang langkah regulasi dan sebelumnya menyebut kekhawatiran soal AI sebagai “hoax”. Dalam acara tersebut, ia mengajak para pemimpin industri menandatangani dokumen dua halaman berjudul “White House Accord on Super Intelligence: Joint Commitment on Frontier Responsibilities”, yang juga dibagikannya melalui akun Truth Social.
Dokumen itu menyatakan setiap perusahaan bertanggung jawab mengembangkan teknologinya dengan aman dan membangun kepercayaan pelanggan serta publik. Empat langkah yang disarankan mencakup pemantauan internal terhadap model, pembentukan tim untuk memastikan kendali berjalan, kerja sama dengan auditor atau evaluator eksternal, serta penunjukan komite independen di dewan untuk mengawasi tim internal.
Baca juga: OpenAI Digugat atas Serangan Siber Agen AI ke Hugging Face
Paragraf terakhir dokumen menyebut langkah-langkah tersebut mungkin perlu dituangkan dalam undang-undang atau peraturan seiring waktu. Ketika ditanya apakah aturan itu mengikat, Trump mengatakan aturan tersebut “mengikat secara moral”.
CEO Meta Mark Zuckerberg mengatakan kesepakatan itu dirancang untuk memberi masyarakat Amerika dan pelanggan keyakinan bahwa teknologi bekerja sesuai tujuan. Ia menyebutnya sebagai awal dari kesepakatan yang dapat diikuti seluruh industri. CEO Anthropic Dario Amodei mengatakan industri dapat bekerja bersama presiden untuk mengembangkan AI dengan aman, sedangkan CEO Alphabet Sundar Pichai menyebut momen itu “bersejarah dan penting”.
Baca juga: Reco Menggalang US$55 Juta di Tengah Ramainya Keamanan Agen AI
Dalam survei nasional Verasight pada September, 63% responden menyatakan AI seharusnya diperlambat, sementara 5% mengatakan pengembangannya perlu dipercepat. Senator Mark Warner pada Selasa juga mengatakan telah mengajukan rancangan undang-undang yang mewajibkan pengujian dan evaluasi ketat terhadap teknologi AI terkemuka, serta memperkuat keamanan dan pelaporan sebelum model paling canggih diluncurkan.
Trump juga mengatakan telah menandatangani dokumen yang dimaksudkan untuk secara resmi mengubah nama AI menjadi “super intelligence”. Langkah itu dilakukan setelah ia meminta masukan mengenai nama baru melalui media sosial pada pekan sebelumnya.

















