VLOBS.COM – Perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan sejumlah perusahaan teknologi menghadapi tantangan privasi dan keraguan konsumen. Meski Apple, Google, Meta, dan pesaing lain mendorong perangkat seperti kacamata, cincin, serta liontin pintar, belum jelas apakah produk-produk itu cukup berguna untuk menjadi bagian dari keseharian.
CNBC menyoroti pengalaman Bella Nowroozi, mahasiswa magister berusia 24 tahun, yang melihat lampu berkedip pada kacamata Meta Ray-Ban milik teman kencannya sekitar dua tahun lalu. Ia meminta rekaman dihapus dan mengatakan pengalaman itu membuatnya khawatir untuk berkencan secara terbuka.
Meta pekan lalu memperkenalkan Muse Charm, wadah khusus untuk aplikasi agen personalnya yang menyerupai Tamagotchi. Produk itu dengan cepat menempati posisi teratas daftar aplikasi gratis di Apple iOS App Store. Meta juga terus merilis model baru kacamata AI Ray-Ban dengan beberapa pilihan harga.
Baca juga: Singapura Uji FirstDate, Aplikasi Kencan untuk Pekerja Pemerintah
OpenAI meluncurkan asisten personal bernama Dots pekan ini. Perusahaan pembuat ChatGPT itu juga bekerja sama dengan Jony Ive, desainer iPhone, untuk mengembangkan perangkat konsumen. Namun, menurut Bloomberg, produk pertamanya tampaknya bukan perangkat wearable. Apple sebelumnya memperkenalkan perangkat terbarunya pada awal September, termasuk fitur AI di Watch Series 12 yang dapat mendengarkan percakapan.
Kekhawatiran terhadap kamera dan perekaman
Di tengah peluncuran berbagai produk, Meta menghadapi kritik terhadap kacamata pintarnya. Di media sosial, perangkat itu dijuluki “kacamata mesum” karena kamera yang tidak mencolok dinilai dapat digunakan untuk melecehkan orang atau melakukan tindakan lain tanpa izin. Sejumlah pengguna media sosial mengaku pernah difoto saat berkencan atau direkam tanpa izin bersama anak-anak mereka.
Iklan Meta yang menampilkan Kylie Jenner merekam kesehariannya juga menuai kritik karena dinilai memperkuat kesan pengawasan. Meta tidak segera menanggapi permintaan komentar CNBC. Bulan lalu, perusahaan itu memperkenalkan pilihan kacamata pintar tanpa kamera.
Baca juga: Amazon Tak Lagi Gunakan NDA dengan Pemerintah untuk Proyek Pusat Data
Analis DA Davidson, Gil Luria, mengatakan penolakan terhadap kacamata berkamera sulit diatasi. Ia mengatakan kedua putra remajanya semula sangat antusias ketika diberi kacamata tersebut tahun lalu, tetapi kini tidak ingin terlihat memakainya.
Perdebatan soal perangkat yang terus mendengarkan atau merekam berlangsung saat pembahasan risiko keselamatan AI di Washington meningkat menjelang pemilihan paruh waktu pada November. Di sejumlah tempat, kacamata pintar telah dilarang di pusat kebugaran dan lokasi lain karena kekhawatiran privasi. Pada Februari, hakim dalam persidangan kecanduan media sosial Meta di Los Angeles mengancam akan menyatakan siapa pun yang memakai kacamata pintar AI selama kesaksian CEO Mark Zuckerberg melakukan penghinaan terhadap pengadilan. Beberapa orang yang mengantar Zuckerberg ke ruang sidang mengenakan Meta Ray-Ban AI Glasses.
Manfaat dan desain jadi penentu
Anshel Sag, analis utama di Moor Insights & Strategy, menilai nilai guna perangkat harus mengatasi kekhawatiran publik terhadap AI. Menurutnya, produk perlu terasa lebih membantu dan berguna daripada hal-hal yang membuat orang waswas.
Baca juga: Pegawai Keselamatan OpenAI Mundur, Sebut Budaya Perusahaan Rusak
Avi Greengart, pendiri sekaligus analis teknologi di perusahaan riset pasar Techsponential, mengatakan perangkat wearable masa depan belum tentu sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Ia menilai perangkat kesehatan memiliki potensi melalui fitur seperti pembacaan tidur, pelacakan olahraga, dan deteksi kecelakaan. Greengart juga menyebut fitur aksesibilitas di AirPods Apple mengubah headphone tersebut menjadi alat bantu dengar.
Sebaliknya, sejumlah produk AI mencolok seperti pin dan liontin menghadapi hambatan desain dan eksekusi. Greengart mencontohkan asisten personal Rabbit r1, yang menurutnya tidak menawarkan penggunaan berbeda dari ponsel dan mengalami masalah teknis serta perangkat keras. Humane AI Pin juga dihentikan tahun lalu setelah menerima ulasan pelanggan yang buruk.
Greengart mengatakan perangkat seharga US$700 yang terlalu panas, antarmukanya sulit digunakan di bawah sinar matahari, dan daya tahan baterainya buruk tidak akan berhasil kecuali menawarkan manfaat yang luar biasa. Sementara itu, Nowroozi—yang saudara perempuannya memiliki kacamata Meta—belum tertarik membeli wearable AI karena belum melihat perbedaan yang jelas dibandingkan kemampuan ponsel.
















