VLOBS.COM – Microsoft menyiapkan Surface Laptop Ultra sebagai laptop kelas atas untuk bersaing dengan MacBook Pro. Perangkat ini menjadi platform pertama bagi RTX Spark, lini chip Nvidia yang membawa komputasi berbasis Arm ke PC.
Menurut Brett Ostrum, wakil presiden korporat Surface di Microsoft, inisiatif Copilot Plus PC pada 2024 awalnya diarahkan untuk menandingi MacBook Air. Saat itu, chip yang tersedia belum cukup mampu untuk menyasar tingkat komputasi MacBook Pro. Microsoft kemudian tertarik pada kemampuan chip Nvidia yang diperlihatkan secara privat, lalu bekerja sama dengan perusahaan itu selama beberapa tahun.
Baca juga: Surface Laptop Ultra Dirilis 16 Oktober, Harga Mulai $2.599
Chip untuk komputasi AI lokal dan pekerjaan kreatif
Microsoft menyebut RTX Spark di dalam Surface Laptop Ultra ditujukan untuk beban kerja AI lokal dan kegiatan kreatif. Perusahaan mengatakan laptop ini mampu menjalankan model AI terkompresi dengan 280 miliar parameter secara lokal. GPU-nya juga ditujukan untuk pekerjaan seperti objek 3D di Blender serta aplikasi kreatif seperti Premiere dan Photoshop.
RTX Spark menggabungkan CPU dan GPU. Menurut laporan The Verge, rancangan itu memungkinkan Microsoft mengecilkan motherboard dan memperbesar kipas. Ruang di dalam laptop dimaksimalkan untuk baterai, sementara komponen disusun dalam kisi-kisi. Microsoft juga menyatakan tidak merekatkan komponen dan menyediakan petunjuk serta kode QR untuk membantu pembongkaran.
Surface Laptop Ultra memiliki bodi aluminium hasil pemesinan CNC, trackpad besar, layar sentuh beresolusi tinggi, serta port HDMI dan slot kartu SD. Model dengan RAM 24GB dibanderol mulai dari $2,599.99, sedangkan konfigurasi dengan memori 128GB berharga $5,899.99.
Baca juga: ChatGPT Hadirkan Intelligent UI dengan Visual Interaktif GPT-6
Pengujian perangkat dan pengisian USB-C magnetis
Microsoft menguji perangkat Surface di laboratorium tanpa jendela di kampusnya di Redmond, Washington. Pengujian mencakup robot yang menekan tombol dan membuka-tutup laptop berulang kali, uji jatuh, paparan gelombang radio, serta pemeriksaan kompatibilitas elektromagnetik dan kepatuhan RF. Perusahaan juga memakai mesin sinar-X dan mikroskop elektron untuk mencari kerusakan hingga skala nanometer.
Untuk mengukur respons perangkat, Microsoft menggunakan Automated Experience Lab (AXL) dan robot yang dijuluki BB8. Sistem berbasis Arduino itu dapat menjalankan tugas seperti memakai layar sentuh dan trackpad, membuka perangkat, serta menyambungkan atau melepas perangkat USB-C. Microsoft mengatakan insinyur Nvidia dapat mengunggah kode ke pengaturan tersebut dari jarak jauh dan menerima data pengujian pada hari berikutnya.
Baca juga: Elon Musk Tuduh Oligarki India Hambat Peluncuran Starlink
Fitur lain yang disorot adalah pengisian daya USB-C bermagnet. Microsoft menambahkan sambungan magnetis di sekitar port USB-C, tanpa menggantinya dengan port khusus. Menurut Jit Hirani, desainer utama perangkat Surface, fitur itu melewati sekitar 300 iterasi. Laptop ini dibekali adaptor pengisian 140 watt.
Microsoft juga menempatkan Surface sebagai contoh kemampuan perangkat Windows bagi mitra OEM-nya. Perusahaan menyebut Surface Laptop Ultra sebagai wujud ambisinya untuk menunjukkan bahwa laptop Windows dapat bersaing di segmen kelas atas.
















